PELAKSANAAN BELAJAR DARI RUMAH (BDR) DI PROVINSI JAMBI DALAM MASA DARURAT PENYEBARAN CORONA VIRUS DISEASE (COVID-19)

PELAKSANAAN BELAJAR DARI RUMAH (BDR)  DI PROVINSI JAMBI DALAM MASA DARURAT PENYEBARAN CORONA VIRUS DISEASE

(COVID-19)

 Oleh

Yetty Fatri Dewi.S.Pd.M.Pd

Widyaiswara LPMP Jambi

Penyebaran Corona Virus Disease  (Covid-19) yang semakin meluas membuat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan berbagai kebijakan terkait dengan pelaksanaan pendidikan. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan  yaitu Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020. Salah satu isi dari surat edaran tersebut yaitu adanya pemberlakukan proses belajar dari rumah. Proses pembelajaran dari rumah dilakukan melalui pembelajaran dalam jaringan (Daring) /jarak jauh. Pelaksanaan pembelajaran Daring menuntut guru untuk kreatif menentukan aplikasi yang akan digunakan. Guru dapat menggunakan barbagai macam aplikasi pembelajaran Daring. Selain itu pemerintah juga telah memfasilitasi belajar dari rumah melalui live streaming TVRI untuk semua jenjang. Jadi tidak ada kata-kata bahwa siswa tidak belajar. Pemerintah juga tidak menentapkan sebuah cara yang harus digunakan dalam pelaksanaan belajar dari rumah. Guru bebas untuk menentukan cara yang akan digunakan yang tentunya dengan pertimbangan efektif dan efisien.

Untuk melihat bagaimana keterlaksanaan belajar dari rumah yang dilakukan oleh guru, pada tanggal 22 sd 25 April 2020 disebarkan instrumen pengumpulan data dalam bentuk google form kepada guru di Provinsi Jambi. Instrumen yang disebarkan fokus pada lima hal yaitu (1) Manajemen Kelas Daring yang digunakan; (2) Aplikasi Live Meeting yang digunakan; (3) Aplikasi Ujian Daring yang digunakan; (4) Kendala yang dihadapi dalam penggunaan Manajemen Kelas, Aplikasi Live Meeting dan aplikasi ujian Daring yang digunakan; serta (5) Aplikasi Daring yang ingin dipelajari lebih lanjut.

Manajemen kelas Daring dapat digunakan guru antara lain (1) Google Clasroom ; (2) Rumah Belajar; (3) Office 365; (4) Moodle; (5) Edmodo; (6) MOOC dan tidak menutup kemungkinan guru menggunakan manajemen lainnya . Penyebaran data penggunanaan manajemen kelas daring  dipaparkan pada grafik berikut.

Dari grafik di atas  dapat dilihat bahwa manajemen kelas daring yang paling banyak digunakan guru adalah Google Classroom. Guru tidak hanya menggunakan enam manajemen kelas di atas. Beberapa guru juga menggunakan  WhatsApp untuk melaksanakan kelas daring.

Dalam program belajar dari rumah guru juga dapat berinteraksi dengan peserta didik menggunakan Aplikasi Live Meeting antara lain (1) Webex; (2) Zoom; (3) Microsoft Team; (4) Google Hangout; (5) WhatsApp; (6) Telegram; (7) Youtube Live; (8) Facebook Live. Dari pengumpulan data yang dilakukan diperoleh informasi penggunaan aplikasi live meeting oleh guru di Provinsi Jambi Sebagai berikut.

Dalam kegiatan live meeting guru lebih banyak menggunakan WhatsApp dibandingkan dengan menggunakan Aplikasi yang lainnya.

Pembelajaran dari rumah yang dilakukan perlu dilihat hasilnya bagi siswa. Guru dapat mengumpulkan data dengan ujian secara daring yang tujuannya bukan untuk melihat ketuntasan kurikulum namun lebih melihat pencapai belajar siswa selama belajar dari rumah. Pengumpulan data terkait hasil belajar siswa dari rumah secara daring dapat menggunakana  aplikasi penilaian secara daring antara lain (1) Google Form; (2) Microsoft Form; (3) Quizizz; (4) Quizlet; (5) Quizalize; (6) e_Examp Caraka; (7) Kahoot; (8) Moodle dan aplikasi lainnya. Dari hasil penjaringan data diperoleh informasi bahwa guru lebih banyak menggunakan google form untuk melakukan penilaian secara daring kepada peserta didik. Penyebaran data penggunaan Aplikasi Ujian Daring oleh guru dituangkan dalam grafik berikut.

Pembelajaran dari rumah secara daring berdasarkan hasil survey terdapat beberapa kendala yang dirasakan oleh guru saat melaksanakannya. Kendala-kendala yang dihadapi oleh guru pada umumnya terkait dengan sinyal internet yang kurang bagus, kuota yang tersedia untuk menggunkan aplikasi terbatas, dan beberapa peserta didik tidak memiliki HP android sendiri. Sebagai mana kita ketahui dalam pembelajaran dari rumah secara daring  membutuhkan sinyal internet, kuota dan android atau alat lainnya seperti laptop. Jika tiga hal tersebut bermasalah maka pembelajaran secara daring tentunya tidak dapat berjalan maksimal. Dalam hal ini kepala sekolah, pihak dinas pendidikan dan kebudayaan  perlu mecari solusi untuk kendala yang dialami guru dan peserta didik. Kepala sekolah, Dinas Pendidikan dan kebudayaan harus segera membuat kebijakan sehinga pembelajaran tetap berjalan .

Walaupun guru telah menggunakan aplikasi pembelajaran secara daring , guru merasa harus belajar lagi dengan aplikasi pembelajaran daring yang sudah digunakan. seperti terlihat pada grafik berikut.

Menyikapi hal tersebut diharapkan lembaga-lembaga diklat dan lebaga terkait lainnya dapat memfasilitasi guru untuk meningkatkan kompetensi dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Tidak menutup kemungkinan pembelajaran Daring akan digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran disekolah tidak hanya digunakan pada saat pandemic Covid-19 saja, namun akan berlanjut setelah aktivitas belajar kembali normal.

Saran untuk Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jambi khususnya diharapkan dapat berperan dalam memfasilitasi guru meningkatkan kompetensi dalam pembelajaran Daring. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat dalam bentuk workshop, seminar atau FGD.  Walaupun aktifitas  pada saat pandemic Covid-19 dilakukan dari rumah tidak menutup kemungkinan LPMP melaksakan berbagai kegiatan terkait dengan penjaminan mutu yang dilaksakan secara daring. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat melibatkan Widyaiswara dan PTP yang dimiliki oleh LPMP Jambi.

Jambi, 30 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *